
TL;DR
Kabupaten Ketapang adalah kabupaten terluas di Kalimantan Barat dengan luas 31.588 km², berpenduduk sekitar 591.000 jiwa. Daerah ini adalah lokasi Kerajaan Tanjungpura yang disebut sebagai kerajaan tertua di Kalimantan, dan rumah bagi PT Well Harvest Winning, produsen Smelter Grade Alumina terbesar di Asia Tenggara. Taman Nasional Gunung Palung di wilayahnya menjadi habitat sekitar 2.500 ekor orangutan liar.
Hampir seperlima luas Kalimantan Barat berada dalam satu kabupaten: Ketapang. Dengan 31.588 km² dan posisi paling selatan di provinsinya, Ketapang bukan sekadar wilayah yang besar di atas kertas.
Di wilayah ini, Kerajaan Tanjungpura yang disebut tertua di Kalimantan pernah berdiri, dan keratonnya masih bisa dikunjungi hari ini. Sementara di hutan hujannya, sekitar 2.500 ekor orangutan liar masih menjalani hidupnya jauh dari keramaian kota. Ini profil lengkap Kabupaten Ketapang.
Luas Wilayah dan Batas Administrasi
Kabupaten Ketapang merupakan kabupaten terluas di Kalimantan Barat dengan luas 31.588 km², mencakup sekitar 21 persen dari total luas provinsi itu. Posisinya di bagian paling selatan Kalimantan Barat membuatnya berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah selatan, Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Kubu Raya di barat, serta Kabupaten Sintang, Melawi, dan Provinsi Kalimantan Tengah di sisi timur.
Secara administratif, kabupaten ini terbagi menjadi 20 kecamatan, 9 kelurahan, dan 253 desa. Ibu kotanya berada di Kecamatan Delta Pawan, yang lebih dikenal sebagai Kota Ketapang, di muara Sungai Pawan. Menurut data BPS Kabupaten Ketapang, penduduk kabupaten ini berjumlah sekitar 591.917 jiwa pada 2022, dengan kepadatan yang sangat rendah: hanya 19 jiwa per kilometer persegi.
Sungai Pawan adalah sungai terpanjang di kabupaten ini. Selama bertahun-tahun sebelum infrastruktur jalan memadai, sungai ini menjadi jalur utama yang menghubungkan kota dengan kecamatan-kecamatan di pedalaman dan menggerakkan distribusi hasil bumi.
Sejarah: Dari Kerajaan Tanjungpura ke Kabupaten Otonom
Sejarah Ketapang lebih panjang dari yang banyak orang sadari. Kerajaan Tanjungpura, yang pusatnya berada di wilayah ini, disebut sebagai kerajaan tertua di Kalimantan, dengan akar yang ditelusuri hingga abad ke-13. Namanya tidak hilang begitu saja: Universitas Tanjungpura dan Kodam XII/Tanjungpura di Kalimantan Barat keduanya mengambil nama dari kerajaan ini.
Pada era kolonial Belanda, Ketapang masuk sebagai bagian dari struktur afdeling (distrik) di bawah Keresidenan Kalimantan Barat. Setelah kemerdekaan, kabupaten ini resmi berstatus daerah otonom lewat Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959.
Nama “Ketapang” sendiri berasal dari pohon ketapang (Terminalia catappa), tumbuhan pesisir tropis yang tumbuh liar di tepi sungai dan pantai di daerah ini. Keraton Matan, peninggalan fisik Kerajaan Tanjungpura yang dipindahkan ke Kecamatan Benua Kayong pada 1922, masih berdiri sampai sekarang di tepi Sungai Pawan dan bisa dikunjungi umum.
Ekonomi: Bauksit, Sawit, dan Sarang Walet
Perekonomian Ketapang bertumpu pada sumber daya alam, dengan tiga sektor utama: pertambangan bauksit, perkebunan kelapa sawit dan karet, serta perdagangan sarang burung walet.
Di sektor tambang, nama Ketapang erat kaitannya dengan bauksit. PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (PT WHW), yang beroperasi di Kecamatan Kendawangan, adalah perusahaan pertama di Indonesia sekaligus terbesar di Asia Tenggara yang memproduksi Smelter Grade Alumina (SGA). SGA adalah bahan antara dalam produksi aluminium, dan keberadaan PT WHW menempatkan Ketapang dalam rantai pasokan material industri global, dari kemasan makanan hingga komponen pesawat terbang.
Di luar tambang, sektor pertanian dalam arti luas, mencakup perkebunan, kehutanan, dan perikanan, berkontribusi sekitar 24 persen terhadap PDRB Ketapang pada 2023. Kelapa sawit dan karet mendominasi di pedalaman, sementara di kawasan pesisir, sarang burung walet menjadi komoditas bernilai tinggi yang sudah lama diperdagangkan.
Masyarakat dan Kebudayaan
Ketapang adalah kabupaten yang benar-benar multietnis. Tiga kelompok terbesar adalah suku Dayak, Melayu, dan Tionghoa, dengan suku Jawa dan Madura juga hadir dalam jumlah yang cukup besar. Kehidupan antarkelompok di sini sudah damai sejak lama.
Komunitas Tionghoa di Ketapang, yang sebagian besar adalah keturunan Teochew (Tiochiu dalam dialek lokal), mulai menetap di Borneo sejak abad ke-18. Hingga kini, dialek Tiochiu masih dipakai sebagai bahasa pengantar di antara warga Tionghoa setempat.
Dua tempat yang paling mudah mewakili keberagaman ini adalah Masjid Agung Al-Ikhlas, yang diresmikan 2017 dengan desain memadukan arsitektur Melayu dan gaya Timur Tengah, dan Kelenteng Tua Pek Kong di pusat kota. Kelenteng ini adalah situs keagamaan Tionghoa berusia ratusan tahun yang juga menjadi titik berkumpul pada perayaan Imlek dan Cap Gomeh, dan terbuka untuk dikunjungi siapa pun.
Dari sisi kuliner, kerupuk amplang adalah oleh-oleh paling khas dari Ketapang. Dibuat dari ikan tenggiri, kerupuk ini lebih tebal dan lebih gurih dari kerupuk biasa. Susah untuk pulang dari Ketapang tanpa membawa beberapa bungkus.
Tempat Wisata di Ketapang
Ketapang punya spektrum wisata yang tidak biasa untuk satu kabupaten: dari ekosistem hutan hujan tropis yang masih asri hingga situs kerajaan abad ke-13 dan pantai yang bisa dijangkau langsung dari pusat kota.
Taman Nasional Gunung Palung
Ini adalah destinasi utama siapa pun yang datang ke Ketapang untuk melihat alam Borneo yang sesungguhnya. Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) mencakup 108.043 hektar di perbatasan Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, dan menjadi habitat sekitar 2.500 ekor orangutan liar. Kawasan ini sering disebut memiliki ekosistem terlengkap di antara taman nasional di Indonesia, dengan tujuh tipe vegetasi mulai dari hutan mangrove di pesisir hingga hutan pegunungan berkabut di ketinggian 1.116 meter.
Waktu terbaik berkunjung adalah antara Mei dan September ketika curah hujan lebih rendah. Perjalanan menuju kawasan taman dari Kota Ketapang memerlukan kombinasi kendaraan darat dan perahu, jadi perencanaan jauh sebelum keberangkatan sangat penting.
Keraton Matan dan Wisata Sejarah
Keraton Matan berdiri di tepi Sungai Pawan, sekitar 20 menit dari pusat kota. Bangunan ini adalah peninggalan fisik Kerajaan Tanjungpura yang dipindahkan ke Kecamatan Benua Kayong pada 1922. Di dalamnya tersimpan benda-benda pusaka kerajaan seperti guci, meriam, dan kain tradisional, dan kawasan sekitarnya bisa dijelajahi dengan menyewa perahu motor di sungai.
Tidak jauh dari sini ada Makam Keramat Tujuh, situs ziarah yang ramai dikunjungi pada waktu-waktu tertentu, dan Kelenteng Tua Pek Kong di pusat kota yang juga layak disinggahi untuk memahami lapisan sejarah Tionghoa di daerah ini.
Pantai dan Wisata Bahari
Pantai Tanjung Belandang berada di pusat kota dan menjadi pilihan mudah untuk menikmati sore hari dan matahari terbenam. Untuk wisata bahari yang lebih serius, Pulau Sawi di Kendawangan menawarkan air laut yang jernih dan cocok untuk snorkeling. Pulau ini berjarak sekitar 70 km dari kota ke arah utara, dilanjutkan dengan perahu motor dari Sungai Tengar sekitar satu jam.
Di daratan, Bukit Batu Daya di perbatasan Kecamatan Laor dan Kecamatan Sukadana menawarkan jalur pendakian ke puncak setinggi 958 meter di atas permukaan laut, dengan panorama alam yang luas dari atas.
Cara Menuju Ketapang
Dari Pontianak, ada dua pilihan utama. Pertama, penerbangan langsung ke Bandara Rahadi Oesman di Ketapang dengan durasi sekitar 45 menit. Kedua, kapal speedboat express yang berangkat setiap pagi dari Pontianak dan tiba sekitar 6 jam kemudian. Dari kota-kota lain di luar Kalimantan, Ketapang bisa dijangkau lewat penerbangan transit di Pontianak.
Jadwal penerbangan dan kapal berubah sewaktu-waktu tergantung operator dan musim. Konfirmasi langsung ke maskapai atau agen kapal sebelum berangkat untuk memastikan jadwal yang berlaku saat ini.
Ketapang jarang masuk dalam daftar destinasi yang dipromosikan besar-besaran, tapi justru itu yang membuatnya menarik. Tidak ada kemacetan wisata, dan alam Borneo yang ditawarkan di sini jauh lebih asli dibanding banyak destinasi populer lainnya. Untuk sebuah kabupaten yang luasnya hampir setara negara Lebanon, masih banyak hal di Ketapang yang belum terjamah.